NABIRE, TEBINGDOYAI.COM - Setiap hari, di sudut-sudut kota Nabire, anak-anak kecil berdiri di pinggir jalan dengan pakaian kusam dan wajah yang lelah. Banyak orang mengira mereka mengemis. Sebagian bahkan memandang dengan curiga. Namun di balik itu, ada kisah tentang anak-anak yang sedang berusaha bertahan hidup dalam tekanan ekonomi dan kerapuhan keluarga.
Suatu siang, di sebuah bengkel kecil di Nabire, sebuah peristiwa sederhana membuka jendela empati. Simon, seorang anak berusia 14 tahun, datang menghampiri Riko, yang saat itu sedang memperbaiki mobil. Ia tidak membawa kotak amal, tidak menyanyi, dan tidak meminta uang. Ia hanya mengeluarkan sebuah kunci L ukuran 12 dari sakunya.Ia datang untuk menjualnya.
Bagi Simon, benda kecil itu adalah peluang untuk makan hari itu dan membantu keluarganya. Seorang mekanik di bengkel tersebut membeli kunci itu seharga Rp20 ribu. Simon menjelaskan dengan polos: Rp10 ribu untuk makan, dan Rp10 ribu untuk pulang ke rumah membantu orang tua. Tidak ada tipu daya. Tidak ada drama. Hanya kejujuran seorang anak yang sedang berjuang.
Riko, yang juga penulis buku Potret Anak Jalanan: Antara Kenyataan dan Harapan, melihat peristiwa itu bukan sebagai transaksi biasa, tetapi sebagai potret sosial. Dari sudut pandang psikologi sosial, Simon menunjukkan ciri khas anak jalanan: pakaian tidak terurus, tubuh yang terbiasa hidup keras, dan ekspresi waspada seolah dunia tidak sepenuhnya aman bagi dirinya.
Simon lahir pada 11 Mei 2011 dan saat ini masih bersekolah di kelas VI SD. Dalam beberapa bulan ke depan, ia akan masuk SMP. Namun sepulang sekolah, Simon sering menanggalkan seragamnya dan turun ke jalan untuk mencari uang. Di situlah bahaya mengintai. Jalanan bisa dengan cepat menjadi ruang yang lebih kuat mempengaruhi masa depan dibanding ruang kelas.
Anak-anak seperti Simon bukanlah pemalas, apalagi kriminal. Mereka adalah anak-anak yang lahir dalam keluarga yang sedang rapuh. Tekanan ekonomi, pengangguran orang tua, dan keterbatasan akses membuat anak dipaksa dewasa sebelum waktunya. Ketika orang tua tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar, anaklah yang sering turun tangan.
Di Nabire, anak-anak jalanan tidak selalu hidup sepenuhnya di jalan. Mereka memiliki rumah dan keluarga, tetapi waktu mereka terbagi antara sekolah dan mencari uang. Titik-titik berkumpul mereka biasanya berada di lapangan futsal, persimpangan jalan, atau pusat keramaian. Di sanalah pengaruh, ajakan, dan pola hidup jalanan terbentuk.
Padahal, negara telah menetapkan bahwa anak-anak harus dilindungi. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan tegas menyatakan bahwa setiap anak berhak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan dari eksploitasi. Anak jalanan bukanlah masalah keamanan, melainkan masalah kesejahteraan dan keadilan sosial.
Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi krusial. Dinas Sosial Kabupaten Nabire dan pemerintah Provinsi Papua Tengah memiliki tanggung jawab bukan hanya menertibkan, tetapi memulihkan. Rumah singgah, pendampingan psikososial, pendidikan alternatif, dan pembinaan keterampilan adalah kunci untuk memutus mata rantai kehidupan jalanan.
Namun yang tidak kalah penting adalah intervensi keluarga. Selama orang tua tidak diberdayakan dan tetap berada dalam tekanan ekonomi, anak akan terus kembali ke jalan. Anak-anak Melanesia di Papua memiliki masa depan besar—bukan untuk dihabiskan di persimpangan jalan, tetapi untuk membangun tanahnya sendiri.
Kisah Simon hanyalah satu dari banyak. Ia bukan pengemis. Ia adalah anak yang sedang berusaha bertahan hidup. Dan cara kita memandang serta memperlakukan anak-anak seperti Simon akan menentukan apakah Nabire memilih masa depan yang lebih manusiawi, atau terus membiarkan luka sosial ini tumbuh diam-diam di pinggir jalan.
Penulis: Riko PekeiPenulis buku “Potret Anak Jalanan: Antara Kenyataan dan Harapan”
