Bupati Yampit Nawipa,Resmi tutup Acara MuspasMee VIII Paniai, Tekankan Kolaborasi Strategis Pemerintah dan Gereja

 

PANIAI,TEBINGDOGIYAI.Com - Bupati Paniai, Yampit Nawipa menutup MuspasMee ke-VIII di Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, Minggu (8/2), menegaskan bahwa kolaborasi strategis pemerintah dan Gereja Katolik adalah fondasi utama pembangunan moral dan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Paniai.

Pemandangan hari itu terasa berbeda. Di panggung penutupan Musyawarah Pastoral Mee (MuspasMee) ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya, Bupati Yampit Nawipa berdiri gagah mengenakan busana adat Suku Mee. Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pesan Intrinsik public figure yang tidak bisa ada di kepala daerah lainnya di Tanah Papua.

Dalam sambutannya yang mengalir, Bupati Nawipa, yang akrab disapa Bupati Womaki, menyampaikan permohonan maafnya karena absen pada momen pembukaan. Ia menyesal tak dapat hadir. Di waktu yang sama, katanya, seluruh kepala daerah di Indonesia wajib mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Bogor.

“Pada kesempatan ini, saya sampaikan permohonan maaf, saat pembukaan tidak dapat hadir karena, kami para pimpinan daerah semua di Bogor. Dan, saya menyesuaikan dengan busana adat ini izin, mohon maaf,” ucap Orang Nomor Satu Kabupaten Paniai itu dengan kerendahan hati.

Bupati Womaki menegaskan bahwa forum MuspasMee Paniai ini memiliki posisi strategis yang krusial. Gereja, menurutnya, adalah mitra utama dalam menjawab tantangan kompleks yang dihadapi masyarakat, mulai dari kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga degradasi nilai kebersamaan.

“MuspasMee ke-VIII ini, bagi saya [Bupati] merupakan forum pastoral strategis Gereja Katolik yang berfungsi sebagai ruang refleksi, evaluasi, serta perumusan arah pelayanan pastoral agar tetap relevan dengan dinamika sosial masyarakat Mee,” ujarnya.

Ia lantas mendorong agar pembangunan di Paniai tak melulu soal fisik semata. Penguatan moral, spiritual, dan solidaritas sosial harus menjadi tumpuan yang setara. Terutama, gerakan pembangkitan ekonomi berbasis kerakyatan.

Menurut Bupati, ajakan untuk menguatkan ekonomi lokal harus diwujudkan secara konkret. Ia menyebut inisiatif lokal yang dikenal sebagai 'Eda-Owada', dapat menjadi program prioritas local yang harus digalakkan di kampung-kampung.

“Saya [Bupati] mau harus prioritas eda-owada diwujud-nyatakan, piara babi, piara ayam, bebek, kelinci, ikan, bikin kebun pangan lokal, sayuran, kopi, dan tempat wisata tata baik agar ada spot-spot wisata dan destinasinya bisa menjadi pemasukan di kampung itu sendiri, dan lain sebagainya,” kata Bupati berjulukan anak muda gerak cepat saat diwawancarai awak media.

Semangat kolaborasi Pemerintah Gereja Paniai ini disambut baik oleh pihak gereja. Pastor Yosep Setyadi, Perwakilan panitia pelaksana MuspasMee VIII, menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemkab Paniai.

“Kehadiran langsung Bupati Paniai bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk nyata dukungan pemerintah terhadap pelayanan Gereja yang bersentuhan langsung dengan kehidupan umat,” pungkas Pastor Yosep Setyadi.

Penutupan MuspasMee VIII ini diharapkan menjadi penegasan tekad kolektif para pemangku kepentingan untuk terus membangun Paniai secara harmonis, bermartabat, dan berkelanjutan, dengan menjadikan kearifan lokal sebagai jangkar utama pembangunan.


Penulis. Bideugi Tosai

Posting Komentar

0 Komentar