NABIRE, TEBINGDOGIYAI.Com - Keluarga besar Siriwo menggelar ibadah syukuran atas pembebasan Oktovianus Tagi, S.IP. dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Nabire. Ibadah berlangsung khidmat di Waharia, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, Sabtu (31/01/2026).
Ibadah syukur tersebut mengusung tema “Kesaksian di Balik Jeruji: Nafas yang Tak Berbayar”. Dalam kesaksiannya, Oktovianus Tagi membagikan refleksi iman mengenai makna kebebasan, kehidupan, serta pembentukan karakter selama menjalani masa pidana.
Ia menyampaikan rasa syukur mendalam kepada Tuhan atas anugerah nafas kehidupan dan kebebasan yang kini kembali ia rasakan. Menurutnya, kehidupan adalah pemberian Tuhan yang tidak ternilai harganya. Ia juga menegaskan bahwa penjara tidak semata-mata menjadi tempat hukuman, tetapi ruang pembentukan karakter yang menempa mental, iman, dan kedewasaan seseorang.
Dalam kesempatan tersebut, Oktovianus turut memberikan klarifikasi terkait perkara hukum yang pernah menjeratnya. Ia menjelaskan bahwa persoalan tersebut bermula dari masalah gaji rekan-rekannya di DPR pada tahun 2018 yang belum dibayarkan, hingga berujung pada proses hukum yang berlangsung kurang lebih tiga tahun.
Selama menjalani persidangan dan masa tahanan, ia mengaku merasakan penyertaan Tuhan yang terus menguatkan imannya melalui doa serta pengalaman rohani di dalam penjara.
Di akhir kesaksiannya, ia mengajak masyarakat untuk tetap mendoakan serta mengunjungi para narapidana. Ia menegaskan bahwa Tuhan hadir di mana saja, termasuk di balik tembok penjara, dan selalu memberi harapan serta pemulihan.
Sementara itu, Yakobus Tag, yang mewakili keluarga besar, menyampaikan rasa syukur atas pembebasan Oktovianus Tagi. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan doa dan perhatian selama proses hukum berlangsung.
“Kami sebagai keluarga mengucap syukur kepada Tuhan atas kebebasan ini. Kami berharap Oktovianus dapat kembali menjalani hidup dengan lebih baik dan berkomitmen memberikan kontribusi positif bagi keluarga, gereja, dan masyarakat,” ujar Yakobus Tagi.
Ibadah syukuran tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan iman, serta pesan tentang harapan, pemulihan, dan kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam kehidupan.
Penulis. Melkias Obaipa


0 Komentar