Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Papua Pegunungan, Arianto Kogoya,saat menjadi narasumber dalam seminar sehari yang digelar Mahasiswa Gereja Injuli Di Indonesia (GIDI) Pemuda Gereja Yeriko di Yoka, Kota Jayapura, Papua, Jumat (20/2/2026).
JAYAPURA, TEBINGDOGIGAI.Com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Papua Pegunungan, Arianto Kogoya, mengajak mahasiswa dan pemuda Papua untuk mengubah pola pikir yang selama ini hanya berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Hal tersebut disampaikan saat Arianto menjadi narasumber dalam seminar sehari yang digelar Mahasiswa Gereja Injuli Di Indonesia (GIDI) Pemuda Gereja Yeriko di Yoka, Kota Jayapura, Papua, Jumat (20/2/2026).
Dalam pemaparannya, Arianto menegaskan bahwa tantangan lapangan pekerjaan di Tanah Papua semakin hari semakin kompleks. Sementara jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun, ketersediaan pekerjaan dinilai tidak sebanding.
“Setiap tahun ratusan bahkan ribuan anak-anak Papua lulus kuliah, baik dari dalam maupun luar Papua. Tetapi pertanyaannya, mereka mau kerja di mana? Lapangan pekerjaan kita sangat terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, pola pikir mahasiswa yang hanya berorientasi menjadi PNS atau masuk dunia politik perlu diubah. Ia menilai peluang di sektor tersebut sangat terbatas dan tidak mampu menampung seluruh angkatan kerja.
“Jangan hanya berpikir setelah kuliah harus jadi PNS atau masuk politik. Itu terbatas. Kita harus berani berinovasi dan menjadi pengusaha. Kalau mau mandiri secara ekonomi, kita harus berwirausaha,” tegasnya.
Arianto menilai Papua memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari pertanian, perikanan, peternakan hingga pariwisata. Namun, sebagian besar potensi tersebut belum dikelola secara optimal dan masih bersifat tradisional.
“Kita masih bertani secara tradisional. Padahal pertanian bisa dikelola secara modern. Peternakan ayam petelur, perikanan, itu bisa membuka lapangan kerja baru. Tinggal bagaimana pemuda mau bergerak,” katanya.
Selain sektor primer, ia juga mendorong pengembangan industri kreatif seperti produksi noken, gelang, topi, hingga pakaian adat yang bisa dipasarkan secara luas melalui teknologi digital.
“Industri kreatif ini punya peluang besar. Kalau dikembangkan dengan inovasi dan pemasaran yang baik, bisa jadi sumber pendapatan yang menjanjikan,” ujarnya.
Terkait permodalan, Arianto menyebutkan bahwa mahasiswa dan pemuda tidak perlu takut memulai usaha. Menurutnya, akses perbankan, jaringan relasi, hingga dana Otonomi Khusus (Otsus) bisa dimanfaatkan untuk mendukung usaha masyarakat Papua.
“Yang penting itu niat dan keberanian. Modal bisa dicari, ada perbankan, ada bantuan pemerintah, termasuk dana Otsus untuk ekonomi masyarakat Papua,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam membuka peluang investasi di Papua, khususnya di sektor industri pengolahan hasil bumi agar nilai tambah ekonomi dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.
“Jangan sampai hasil bumi kita diambil dari sini, diolah di luar Papua, lalu kita hanya jadi penonton. Industri harus dibangun di Papua supaya lapangan kerja tercipta di sini,” tegasnya.
Ia menilai, selama ini sistem pendidikan masih didominasi sekolah umum, sementara kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha menuntut keterampilan teknis yang siap pakai.
“Kita harus perbanyak sekolah kejuruan, seperti SMK kesehatan, teknik, pertanian, dan jurusan keterampilan lainnya. Anak-anak kita harus disiapkan dengan skill yang jelas supaya setelah lulus mereka tidak bingung mau kerja di mana,” ujarnya.
Menurut Arianto, penguatan pendidikan vokasi menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Papua yang mandiri dan mampu bersaing, baik sebagai tenaga kerja profesional maupun sebagai pelaku usaha.
“Kalau kita siapkan SDM yang terampil, maka mereka bisa langsung masuk dunia kerja atau bahkan membuka usaha sendiri. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegasnya.
Arianto berharap, forum seperti ini tidak berhenti sebagai diskusi semata, tetapi menjadi titik awal perubahan pola pikir generasi muda Papua untuk berani mandiri secara ekonomi.
“Jangan terus bergantung. Kita harus mulai berpikir mandiri, menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari kerja,” pungkasnya.
Penulis. Tim Redaksi
.jpg)

0 Komentar