Andreas Gobai Soroti Transportasi Nabire, Bomomani Menuju Distrik Mapia Barat: Harap Pemerintah Hadir


JAYAPURA, TEBINGDOGIYAI.COM - Menjelang perayaan Natal 25 Desember 2025 dan Tahun Baru 1 Januari 2026, persoalan transportasi kembali menjadi keluhan utama bagi masyarakat di pedalaman Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah bagian Mapia 

‎Akses transportasi yang mahal, terbatas, dan tidak aman dinilai semakin menyulitkan mobilitas warga, khususnya yang berada di Distrik Piyaiye, Sukikai Selatan, Mapia Barat, dan Mapia Tengah.

‎Keluhan tersebut disampaikan langsung Oleh Mantan Ketua KPU kabupaten Dogiyai Andreas Gobai, Melalui via WhatsApp pada Sabtu (20/12/2025). 

‎la mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi transportasi yang dinilai semakin memberatkan masyarakat menjelang momen keagamaan dan pergantia tahun.

‎Masalah transportasi ini sudah lama dirasakan masyarakat Dogiyai, tetapi menjelang Natal dan Tahun Baru kondisinya terasa semakin berat. Biaya carter mobil sangat mahal dan jumlah kendaraan yang bisa melayani masyarakat sangat terbatas," ujar Andi Gobai.

‎Menurut Andi Gobai, biaya transportasi dari Nabire menuju wilayah pedalaman Dogiyai saat ini berada pada angka yang sangat tinggi dan sulit dijangkau oleh masyarakat kecil. Untuk satu kali perjalanan, warga harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah, bahkan lebih mahal dibandingkan rata-rata pendapatan masyarakat.

‎"Biaya mobil carter dari Nabire ke Mapia Barat, yang mencakup empat distrik di Kabupaten Dogiyai, saat ini mencapai Rp4.000.000. Sementara ke Mapia Tengah sebesar Rp3.000.000," jelasnya.

‎Tak hanya itu, tarif mobil carter dari Bomomani menuju Abouyaga, Distrik Mapia Barat, juga dilaporkan mencapai Rp3.000.000 untuk satu kali perjalanan. Angka tersebut dinilai sangat memberatkan, terutama bagi masyarakat yang ingin pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga.

‎"Ini bukan angka yang kecil bagi masyarakat kami. Banyak warga yang akhirnya memilih tidak pulang kampung karena tidak sanggup membayar biaya transportasi," tambahnya.

‎Selain persoalan mahalnya tarif, masalah utama lainnya adalah tidak tersedianya transportasi penumpang reguler. Hingga saat ini, belum ada angkutan umum yang melayani rute Nabire-Dogiyai secara rutin dan terjadwal.

‎"Transportasi penumpang hampir tidak ada. Yang tersedia hanya kendaraan pribadi yang dicarter, itupun jumlahnya sangat terbatas," kata Andi Gobai.

‎Kendaraan yang mampu melintasi medan berat menuju Dogiyai umumnya adalah jenis double cabin seperti Hilux atau SUV seperti Fortuner. Namun, jumlah armada tersebut sangat sedikit dan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat.

‎Akibat keterbatasan armada, masyarakat sering harus menunggu berhari-hari hingga ada kendaraan yang bersedia mengantar mereka ke kampung halaman. Situasi ini semakin memperburuk kondisi mobilitas warga, terutama menjelang hari besar keagamaan.

‎Masalah transportasi di Dogiyai tidak dapat dilepaskan dari kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan. Jalan penghubung antar distrik dan kabupaten dilaporkan dalam kondisi terjal, rusak parah, dan rawan kecelakaan.

‎"Kondisi jalan sangat tidak mendukung. Banyak titik yang rusak, berlumpur, dan berbahaya, apalagi saat hujan. Ini membuat pengemudi enggan melayani penumpang, dan kalau pun ada, tarifnya pasti mahal karena risikonya tinggi," ungkap Andi.

‎la menambahkan, tidak sedikit kendaraan yang mengalami kerusakan di tengah perjalanan, bahkan kecelakaan, akibat medan jalan yang ekstrem. Hal ini tentu membahayakan keselamatan masyarakat yang terpaksa menggunakan jasa carter demi bisa sampai ke tujuan.

‎Kondisi transportasi yang mahal dan terbatas ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di wilayah pedalaman Dogiyai.

‎Menurut Andi Gobai, warga di Distrik Piyaiye, Sukikai Selatan, Mapia Barat, dan Mapia Tengah hidup dalam keterbatasan serius dan nyaris tidak berdaya dalam mengakses transportasi yang aman, layak, dan terjangkau.

‎"Transportasi bukan hanya soal pergi dan pulang, tetapi menyangkut akses terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Ketika transportasi sulit, semua aspek kehidupan ikut terdampak," tegasnya.

‎la menyebutkan, banyak warga yang kesulitan membawa hasil kebun ke kota, mengakses layanan kesehatan rujukan, maupun mengurus administrasi pemerintahan karena terkendala biaya dan ketersediaan transportasi.

‎Menjelang Natal, persoalan ini semakin terasa menyentuh sisi kemanusiaan. Natal bagi masyarakat Papua, khususnya di pedalaman, merupakan momen sakral untuk berkumpul bersama keluarga, beribadah, dan mempererat ikatan persaudaraan 

‎Namun, mahalnya biaya transportasi membuat sebagian warga terpaksa merayakan Natal jauh dari kampung halaman.

‎"Banyak anak-anak, mahasiswa, dan pekerja asal Dogiyai yang berada di Nabire atau daerah lain, tapi tidak bisa pulang kampung karena tidak punya biaya," tutur Andi Gobai dengan nada prihatin.

‎la menilai, kondisi ini sangat ironis di tengah semangat Natal yang seharusnya membawa sukacita, kedamaian, dan kebersamaan.

‎Atas situasi tersebut, Andi Gobai mendesak adanya perhatian nyata dan langkah konkret dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi Papua Tengah, maupun Pemerintah Kabupaten Dogiyai.

"Persoalan transportasi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Dibutuhkan kebijakan serius dan berkelanjutan, bukan hanya solusi sementara," tegasnya.

‎la berharap pemerintah dapat menghadirkan transportasi penumpang subsidi, menambah armada, serta mempercepat perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur jalan menui wilayah pedalaman.

‎Menurutnya, keterlibatan semua pihak, termasuk aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan pelaku usaha transportasi, sangat diperlukan agar solusi yang diambil benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

‎Lebih jauh, Andi Gobai menekankan bahwa akses transportasi yang layak merupakan hak dasar masyarakat dan bagian penting dari pembangunan yang berkeadilan.

‎"Kalau kita bicara pembangunan Papua, maka transportasi adalah urat nadi. Tanpa transportasi yang baik, masyarakat pedalaman akan terus tertinggal," ujarnya.

‎la mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga harus menjangkau wilayah pedalaman yang selama ini masih mengalami keterbatasan akses.

‎Menutup pernyataannya, Andi Gobai menyampaikan harapan agar menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, mobilitas masyarakat dapat berlangsung dengan aman, lancar, dan tanpa hambatan berarti.

‎"Semoga Natal dan Tahun Baru ini membawa harapan baru bagi masyarakat di wilayah pedalaman Piyaiye, Mapia Barat, Mapia Tengah, dan sekitarnya. Kami berharap ada perubahan nyata, bukan sekadar janji," pungkasnya.

‎la juga mengajak semua pihak untuk menjadikan momentum Natal sebagai refleksi bersama tentang pentingnya keadilan sosial dan pemerataan pembangunan, khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil.

‎Dengan kondisi yang ada saat ini, persoalan transportasi di Kabupaten Dogiyai menjadi cermin tantangan besar pembangunan di wilayah pedalaman Papua Tengah. Tanpa perhatian serius dan langkah konkret, kesenjangan akses dan pelayanan dikhawatirkan akan terus berlanjut, meninggalkan masyarakat pedalaman dalam keterbatasan yang berkepanjangan, bahkan di tengah momen sakral Natal dan Tahun Baru

By Admin 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama