Oleh: Paskalis Dogomo
TEBINGDOGIYAI.COM, Nabire –Saya ingin memulai tulisan ini dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang pernah hadir dalam perjalanan hidup saya, baik melalui kata-kata manis maupun kritik yang kadang menyakitkan. Semua itu, saya anggap sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.
Namun di balik ucapan terima kasih itu, ada luka yang tidak bisa dipungkiri. Luka yang muncul dari gosip, cibiran, bahkan penilaian sesama keluarga dan lingkungan sendiri. Hal-hal semacam itu sering terjadi di depan mata kita, seolah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Padahal, dampaknya sangat dalam bagi seseorang yang sedang berjuang membangun masa depan.
Saya lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Keterbatasan biaya bukan hal baru bagi saya. Meski begitu, saya tidak pernah mengeluh atau menyalahkan orang tua. Dalam perjalanan hidup, hanya satu sosok yang selalu berdiri sebagai penopang utama saya, yakni kakak perempuan saya, Suster Yosephina Selvina Dogomo, A.Md.Kes. Dialah yang bertindak sebagai orang tua sekaligus penolong, mendampingi saya hingga hari ini.
Perjuangan pendidikan saya bukan hal mudah. Saya memulai kuliah pada 2009 dan menyelesaikan studi Strata 1 di Universitas Cenderawasih pada 2014. Selama proses itu, hanya keluarga kecil saya terutama Suster Selpi yang menjadi kekuatan utama.
Setelah itu, saya sempat menikah pada 2017. Namun perjalanan hidup membawa saya pada masa-masa sulit. Hingga 2022, saya pernah merasakan pengangguran. Meski begitu, saya tidak menyerah. Saya memilih mengambil risiko besar: melanjutkan pendidikan pascasarjana (S2) di jurusan yang sama di Universitas Cenderawasih Jayapura. Saat ini, saya masih berstatus mahasiswa dan terus berjuang menyelesaikan studi.
Selama semua proses itu, tidak banyak orang tempat saya mengadu. Hanya dua nama yang selalu ada: Suster Selly dan Suster Lia. Dukungan mereka menjadi alasan saya tetap berdiri ketika banyak orang meragukan.
Dari pengalaman itu, saya melihat satu persoalan serius di lingkungan kita, khususnya di wilayah SIMAPITOWA kebiasaan merendahkan sesama. Orang mudah memandang rendah mereka yang belum berhasil. Jabatan dijadikan alat kesombongan. Pegawai negeri merasa lebih tinggi dari yang bukan pegawai. Yang punya proyek merasa lebih hebat dari yang menganggur. Rumah, harta, dan status sosial dipamerkan seolah-olah menjadi ukuran harga diri.
Mentalitas seperti ini menjadi batu sandungan bagi generasi muda yang sedang berjuang. Bukannya diberi dukungan, malah dicibir. Bukannya dirangkul, malah dipinggirkan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka semangat kebersamaan dan nilai kekeluargaan yang kita banggakan hanya akan menjadi slogan kosong.
Sebagai masyarakat di daerah otonomi khusus, kita semestinya membangun budaya saling menghargai, bukan mempertajam ego.
Saya juga percaya bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus dibarengi tanggung jawab. Kritik boleh, tetapi ujaran kebencian, fitnah, dan penghinaan tidak boleh dibiarkan. Jika ada pihak yang terus menyebarkan kebencian, saya siap menempuh jalur hukum secara resmi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, bukan dengan cara-cara emosional atau hukum adat semata. Kita hidup di negara hukum, dan hukum harus menjadi pelindung bagi keadilan.
Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hal: perjuangan tidak pernah sia-sia. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Dan kesombongan sosial bukan budaya yang layak dipertahankan. Mari kita belajar saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Karena pada akhirnya, keberhasilan seseorang adalah keberhasilan bersama.


0 Komentar