‎Pertemuan Singkat Bapak dan “Anak” di Kampus: Warisan Pengetahuan, Harapan, dan Estafet Kepemimpinan



JAYAPURA, TEBINGDOGIYAI.Com - Pada Kamis (27/11/2025) di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih, Abepura, Jayapura, Papua, suasana hangat menyelimuti salah satu sudut kampus. Di tengah kesibukan mahasiswa dan dosen yang berlalu-lalang, sebuah percakapan kecil namun berharga terjadi antara seorang ilmuwan senior dan mahasiswanya. Percakapan itu bukan sekadar interaksi akademik biasa; ia mengandung nilai-nilai pengetahuan, kebijaksanaan, dan harapan masa depan yang mengalir dari seorang guru kepada muridnya dari seorang “bapak” akademis kepada “anak” intelektualnya.

‎Adalah Dr. Ling. Drs. Ferdinand Harsoyo, M.Si., dosen senior sekaligus ahli lingkungan di Program Studi Pendidikan Geografi, yang siang itu duduk berbincang akrab dengan Natalis Takimai, mahasiswa semester tujuh yang ia anggap sebagai putranya sendiri. Natalis adalah mantan ketua Ikatan Mahasiswa Geografi Indonesia (IMAHAGI) Periode 2023-2025. Bagi banyak mahasiswa, Dr. Ferdinand bukan hanya dosen; ia adalah sosok akademisi disiplin, penyayang, sekaligus pembimbing yang melihat pendidikan bukan sebagai pekerjaan, tetapi sebagai jalan hidup.

‎Di hadapan mahasiswa-mahasiswanya, beliau dikenal sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah lelah menulis, dan tidak pernah bosan mengingatkan generasi muda Papua tentang pentingnya ilmu dan karakter. Pertemuan singkat itu memperlihatkan bagaimana hubungan intelektual dapat tumbuh menjadi relasi emosional yang kuat, penuh rasa hormat dan penghargaan.

‎Warisan Pengetahuan dari Seorang Akademisi yang Mendedikasikan Hidupnya pada Ilmu

‎Dalam perbincangan yang terlihat sederhana namun sarat makna itu, Dr. Ferdinand mengenang perjalanan panjangnya sebagai seorang akademisi. Dengan suara pelan, mata berbinar, dan senyum yang menyiratkan rasa syukur, ia mengungkapkan sesuatu yang membuat Natalis tertegun.

‎“Bapa sudah tulis 99 buku,” katanya sambil menatap jauh ke arah gedung fakultas tempat ia mengabdikan hidupnya. “Satu buku lagi, baru pensiun. Itu akan jadi karya terakhir bapa.”

‎Kalimat itu terdengar ringan, tetapi sesungguhnya ia menyimpan sejarah panjang dedikasi, disiplin ilmiah, dan pengorbanan seorang dosen yang menjadikan menulis sebagai ibadah intelektual. Di tengah tantangan birokrasi, keterbatasan fasilitas, dan dinamika dunia pendidikan di Papua, menulis hampir seratus buku bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu adalah pencapaian luar biasa yang menegaskan bahwa seorang akademisi sejati tidak berhenti berkarya meski usia terus berjalan.

‎Menulis sebagai Napas Ilmu

‎Bagi Dr. Ferdinand, menulis adalah cara mengabadikan pengetahuan dan memastikan generasi berikutnya memiliki pijakan yang kokoh untuk melangkah. Ia menulis tidak untuk pujian, tetapi untuk warisan. Ia menulis karena yakin bahwa ilmu tidak boleh mati pada satu generasi; ia harus mengalir dari guru ke murid, dari senior ke junior, dari masa lalu ke masa depan.

‎Melalui 99 bukunya, ia telah menjelaskan berbagai hal tentang lingkungan, geografi, pendidikan, analisis spasial, dan berbagai isu kebumian lainnya. Ia menyentuh persoalan-persoalan ekologis Papua, menjelaskan fenomena-fenomena alam, dan memberikan kerangka ilmiah bagi generasi muda yang kelak akan menjadi perencana, peneliti, ataupun pengambil keputusan.

‎Di tengah banyak dosen yang menghabiskan waktu dengan aktivitas administratif, Dr. Ferdinand memilih untuk tetap menulis. Menurutnya, menulis adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang akademisi.

‎“Kalau tidak menulis, ilmu itu mati. Kalau ilmu mati, generasi berikutnya akan mulai dari titik nol,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.

‎Pernyataan itu menjadi refleksi bahwa dedikasi seorang akademisi tidak dapat diukur dari jabatan atau masa kerja, melainkan dari kontribusi nyata dalam memperkaya pengetahuan kolektif masyarakat.

‎Sebuah Percakapan yang Menyimpan Harapan

‎Ketika percakapan berlanjut, Dr. Ferdinand menyampaikan pesan penting yang ia tujukan kepada Natalis—pesan yang sesungguhnya berlaku untuk semua generasi muda Papua. Pesan itu bukan nasihat biasa, tetapi rangkuman pengalaman hidup, jatuh bangun, dan pergumulan panjang seorang pendidik.

‎Ia mengatakan bahwa suatu hari nanti, ketika Natalis menyelesaikan studinya dan kembali ke daerah asalnya, masyarakat akan mengenalnya sebagai seorang pemimpin. Ucapan itu bukan basa-basi. Ia adalah bentuk keyakinan yang lahir dari pengamatan terhadap potensi mahasiswa yang rajin bertanya, kritis, berani mengemukakan pendapat, dan memiliki sensitivitas sosial.

‎“Pemimpin itu tidak lahir dari jabatan,” ujarnya. “Pemimpin lahir dari karakter, dari cara berpikir, cara menyikapi persoalan, dan cara memandang masa depan.”

‎Menurut beliau, kemampuan membaca situasi adalah fondasi kepemimpinan. Kemampuan berbicara dengan jelas, memahami konteks sosial, dan mengambil keputusan secara bijak adalah kunci. Kepemimpinan bukan hanya soal memimpin orang lain, tetapi memimpin diri sendiri untuk tetap berjalan pada nilai-nilai kebaikan.

‎Kalimat-kalimat itu menjadi pesan moral yang relevan bagi banyak anak muda Papua yang sedang berjuang di sekolah, universitas, organisasi, maupun komunitas. Papua membutuhkan pemimpin muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga dewasa secara emosional, kuat secara karakter, dan peka terhadap masalah masyarakat.

‎Kepemimpinan yang Berakar pada Nilai

‎Dalam percakapan itu, Dr. Ferdinand menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas. Integritas dibangun dari kejujuran, ketekunan, dan kesiapan untuk menghadapi kesulitan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin karena melihat prestise, kekuasaan, atau pengaruhnya. Namun sangat sedikit yang menyadari bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab moral yang berat: memikul harapan orang banyak, melindungi yang lemah, dan memperjuangkan kebaikan bersama.

‎Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan harus lahir dari nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur Papua: kebersamaan, hormat, kejujuran, dan gotong royong. Nilai-nilai itulah yang selalu beliau tanamkan kepada mahasiswa dalam berbagai kesempatan, baik di kelas, saat diskusi lapangan, maupun dalam percakapan-percakapan kecil seperti hari itu.

‎Dalam konteks Papua yang sedang bergerak menuju transformasi sosial dan pembangunan, pemimpin yang berkarakter adalah kebutuhan mendesak. Bukan pemimpin yang mengejar popularitas, tetapi pemimpin yang mau bekerja untuk kebaikan masyarakat.

‎‎Pertemuan Kecil yang Mencerminkan Regenerasi Akademik

‎Pertemuan antara Dr. Ferdinand dan Natalis bukan hanya percakapan yang terjadi secara kebetulan di kampus. Ia menggambarkan proses regenerasi dalam dunia pendidikan Papua. Regenerasi tidak hanya terjadi secara administratif, tetapi juga melalui hubungan personal antara guru dan murid, antara senior dan junior, antara generasi yang hendak pensiun dan generasi yang sedang naik daun.

‎Sebagaimana dalam tradisi lisan Papua, pengetahuan diwariskan melalui pertemuan-pertemuan seperti ini yang di dalamnya terdapat nilai, hikmah, dan pengalaman hidup. Di balik sapaan dan senyum yang hangat, terdapat makna bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, tetapi perpindahan nilai dan karakter.

‎Di ruangan atau lorong kampus seperti itulah sering terjadi momen-momen penting yang tidak tercatat di jadwal kuliah, tetapi membentuk pribadi dan masa depan mahasiswa.

‎Natalis sebagai Representasi Generasi Muda Papua

‎Dalam percakapan tersebut, Natalis bukan hanya mahasiswa yang duduk mendengarkan. Ia mewakili wajah generasi muda Papua: generasi yang sedang mencari tempatnya di dunia akademik, generasi yang sedang memperjuangkan mimpinya, dan generasi yang memikul harapan besar dari keluarga dan komunitasnya.

‎Sebagai mahasiswa semester tujuh, ia berada di ambang masa transisi dari belajar menjadi berkarya. Ucapan-ucapan Dr. Ferdinand bukan hanya nasihat, tetapi pembekalan moral yang akan berguna ketika ia nanti kembali ke masyarakatnya.

‎Generasi muda Papua hari ini menghadapi tantangan besar: perubahan sosial, konflik kepemimpinan, masalah lingkungan, hingga pembangunan yang kadang tidak berpihak pada masyarakat lokal. Karena itu, mereka membutuhkan fondasi karakter yang kuat untuk menjadi pemimpin yang mampu melihat persoalan dengan jernih dan menawarkan solusi yang adil.

‎Pesan Dr. Ferdinand kepada Natalis adalah pesan bagi seluruh anak-anak muda Papua yang menempuh pendidikan tinggi: bahwa mereka tidak boleh menjadi pemimpin instan, tetapi pemimpin berkarakter; pemimpin yang memahami masalah rakyatnya; pemimpin yang berpikir jauh ke depan.

‎Estafet Pengetahuan dan Harapan untuk Masa Depan

‎Pertemuan kecil itu mengajarkan satu hal penting: bahwa pendidikan sejati terjadi ketika pengalaman masa lalu bertemu dengan semangat masa depan. Dr. Ferdinand, dengan 99 bukunya, mewakili generasi akademisi yang telah berjuang menciptakan pengetahuan di tengah segala keterbatasan. Natalis mewakili generasi baru yang akan melanjutkan perjuangan itu.

‎Estafet akademik tidak semata-mata tentang siapa menulis lebih banyak atau siapa memegang jabatan tertentu. Ia adalah tentang bagaimana nilai-nilai keilmuan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia tentang bagaimana kerja keras, ketekunan, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan tidak berhenti di satu titik, tetapi terus mengalir.

‎Papua membutuhkan lebih banyak sosok seperti Dr. Ferdinand akademisi yang menulis, berpikir kritis, dan membimbing tanpa pamrih. Namun Papua juga membutuhkan lebih banyak sosok seperti Natalis anak muda yang mau belajar, berani bermimpi, dan siap mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin masa depan.(*)

‎Penulis. Admin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama