Sosialisasi Empat Pilar di SMA YPK Betlehem Wamena, Sopater Sam Tekankan Peran Pelajar Jaga Persatuan Bangsa

Keterangan foto: Anggota MPR RI Sopater Sam, ST saat memberikan materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada kepala sekolah, guru, dan siswa-siswi di Aula SMA YPK Betlehem Wamena, Kamis (12/3/2026) pagi.


TEBINGDOGIYAI.COM,JAYAWIJAYA-  Upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda terus digencarkan. Salah satunya melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dilaksanakan Anggota MPR RI, Sopater Sam, ST, di Aula SMA YPK Betlehem Wamena, Jalan Bhayangkara No. 48, Desa Wamena Kota, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (12/3/2026) pagi.

Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari kepala sekolah, para guru, serta siswa-siswi. Suasana sosialisasi berlangsung tertib dan penuh antusiasme, terlihat dari perhatian peserta saat menyimak materi hingga aktifnya sesi diskusi dan tanya jawab.

Dalam pemaparannya, Sopater Sam menjelaskan bahwa Empat Pilar MPR RI merupakan dasar utama dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Ia merinci, Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan persatuan dalam keberagaman.

Menurutnya, pemahaman terhadap Empat Pilar sangat penting ditanamkan sejak dini, terutama di lingkungan sekolah, karena pelajar merupakan generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan bangsa.

“Generasi muda, khususnya para pelajar, adalah harapan bangsa. Mereka harus dibekali pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan agar mampu menjaga persatuan dan menghadapi tantangan zaman,” ujar Sopater Sam.

Ia menambahkan, di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi yang begitu cepat, generasi muda dihadapkan pada berbagai pengaruh yang bisa berdampak positif maupun negatif. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi filter dalam menyikapi setiap perubahan.

“Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi harus disikapi dengan bijak. Jangan sampai generasi muda kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” tegasnya.

Sopater Sam juga menyoroti pentingnya peran sekolah sebagai tempat pembentukan karakter. Ia mengajak kepala sekolah dan para guru untuk terus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, tidak hanya melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui keteladanan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter. Guru harus menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Empat Pilar,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan para siswa untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman latar belakang yang ada di Papua. Menurutnya, perbedaan suku, agama, dan budaya harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Perbedaan adalah anugerah. Kita harus saling menghargai, saling menghormati, dan hidup berdampingan dengan damai. Itulah makna Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Kegiatan sosialisasi semakin hidup saat memasuki sesi dialog. Sejumlah siswa mengajukan pertanyaan seputar peran generasi muda dalam menjaga keutuhan NKRI, tantangan di era digital, hingga cara menangkal pengaruh negatif media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Sopater Sam mengingatkan pentingnya literasi digital bagi generasi muda. Ia menekankan agar para siswa tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.

“Anak-anak harus cerdas dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah percaya pada hoaks atau informasi yang memecah belah. Gunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat,” pesannya.

Selain itu, ia juga mengajak para pelajar untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan, dimulai dari lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar. Sikap disiplin, tanggung jawab, dan semangat gotong royong dinilai sebagai nilai dasar yang harus dimiliki setiap generasi muda.

Sementara itu, pihak sekolah menyambut baik kegiatan sosialisasi tersebut. Mereka menilai kegiatan ini sangat penting dalam memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai kebangsaan di tengah berbagai tantangan zaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa tidak hanya memahami Empat Pilar MPR RI secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Sopater Sam pun berharap kegiatan sosialisasi seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga nilai-nilai kebangsaan semakin tertanam kuat di kalangan generasi muda, khususnya di Papua Pegunungan.

“Harapan kami, melalui kegiatan ini, generasi muda semakin memiliki kesadaran untuk menjaga persatuan, mencintai bangsa, dan berkontribusi positif bagi masa depan Indonesia,” tutupnya.

Posting Komentar

0 Komentar