Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Nobar Film “Pesta Babi” Digelar di Bomomani, Angkat Isu Tanah Adat dan Kerusakan Hutan Papua



DOGIYAI – Sejumlah komunitas dan organisasi di Distrik Bomomani, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, akan menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita pada Minggu (24/5/2026).

Kegiatan tersebut akan berlangsung di Aula Paroki MMKG Bomomani mulai pukul 11.30 WIT dan terbuka bagi masyarakat Bomomani, Mapiha, serta warga Dogiyai pada umumnya.

Film dokumenter yang disutradarai Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale itu mengangkat berbagai persoalan masyarakat adat Papua, mulai dari isu tanah adat, pembabatan hutan, hingga proyek strategis nasional (PSN) yang dinilai berdampak terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan.

Panitia kegiatan menyebutkan, film tersebut menyoroti kehidupan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi yang menghadapi pembukaan hutan besar-besaran untuk perkebunan serta proyek pangan dan energi.

Menurut panitia, tema yang diangkat dalam film itu dinilai relevan dengan kondisi di wilayah Dogiyai dan sekitarnya, yang belakangan mulai ramai diperbincangkan terkait isu masuknya investasi tambang emas, tembaga, minyak, hingga pembukaan hutan dan perkebunan skala besar.

“Kegiatan ini penting supaya masyarakat bisa melihat dan mendiskusikan secara langsung persoalan yang sedang dialami masyarakat adat Papua di berbagai wilayah,” demikian keterangan panitia dalam rilis yang diterima Tribun Papua.

Kegiatan nobar tersebut diselenggarakan oleh Dewan Paroki MMKG Bomomani, KAMAPI TOPII, OMK Musa Hitam Paroki MMKG Bomomani, Perkumpulan Angkatan 2012 Simapitowa, dan Komunitas Labebo.

Selain pemutaran film dan diskusi, panitia juga akan membuka penggalangan sumbangan sukarela bagi para pengungsi internal di Papua.

Panitia berharap masyarakat dapat terlibat aktif dalam kegiatan tersebut sebagai ruang refleksi bersama terkait masa depan tanah adat dan lingkungan hidup di Tanah Papua.


Posting Komentar

0 Komentar