Kegiatan yang digelar di Aula Sekretariat Masyarakat Yalimo, Jalan Raya Trans Wamena–Elelim, Honita, tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari anggota ASLIB, tokoh pemuda, serta elemen masyarakat setempat. Sejak pagi hari, para peserta tampak memadati ruangan kegiatan dengan penuh semangat untuk mengikuti materi sosialisasi.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya MPR RI dalam memperkuat wawasan kebangsaan di daerah-daerah, khususnya di wilayah Papua Pegunungan yang kini berstatus sebagai provinsi baru hasil pemekaran. Sopater menilai, generasi muda di daerah otonomi baru memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah masa depan pembangunan.
Dalam pemaparannya, Sopater Sam menjelaskan secara rinci tentang Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.
Menurutnya, keempat pilar tersebut bukan sekadar materi teori, melainkan pedoman hidup yang harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda yang kelak akan menjadi pemimpin daerah.
“Pemuda Yalimo harus bangga menjadi bagian dari Indonesia. Empat Pilar ini adalah pondasi kita bersama. Kalau kita pegang teguh nilai Pancasila dan persatuan, maka daerah ini akan maju,” ujar Sopater di hadapan peserta.
Ia menekankan bahwa kehadiran Provinsi Papua Pegunungan dan pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) merupakan peluang besar bagi masyarakat lokal untuk berkembang. Namun, peluang tersebut harus diisi dengan sumber daya manusia yang berkualitas, berpendidikan, serta memiliki semangat nasionalisme.
“Pemekaran bukan hanya soal pemerintahan baru, tetapi kesempatan bagi generasi muda untuk tampil. Jangan hanya menunggu, tapi siapkan diri, sekolah Confirmasi, tingkatkan kemampuan, dan ambil peran dalam pembangunan,” katanya.
Sopater juga mengingatkan bahwa kemajuan daerah tidak akan tercapai tanpa persatuan dan stabilitas sosial. Ia mengajak para pemuda untuk menjaga kerukunan, menjunjung tinggi toleransi, serta menghindari konflik yang dapat menghambat pembangunan.
“Kalau kita terpecah, kita sendiri yang rugi. Tapi kalau bersatu, pembangunan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi akan berjalan lebih cepat. NKRI harus tetap kita jaga bersama dari Yalimo,” tegasnya.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga diisi dengan sesi dialog interaktif. Para peserta diberi kesempatan menyampaikan berbagai pertanyaan dan aspirasi, mulai dari akses pendidikan yang masih terbatas, lapangan pekerjaan bagi lulusan sekolah, hingga harapan agar pemerintah memberi ruang lebih luas bagi keterlibatan pemuda dalam pengambilan kebijakan.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan terbuka. Banyak peserta terlihat aktif berdiskusi, menunjukkan kepedulian mereka terhadap masa depan daerah.
Salah satu peserta mengaku kegiatan tersebut memberi motivasi baru bagi generasi muda untuk lebih percaya diri dan terlibat dalam pembangunan.
“Kami jadi sadar bahwa masa depan Yalimo ada di tangan kami sendiri. Sosialisasi ini membuka pikiran kami tentang pentingnya persatuan dan peran pemuda,” ujarnya.
Di akhir kegiatan, Sopater mengajak seluruh peserta untuk menjadikan nilai-nilai Empat Pilar sebagai pegangan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia berharap pemuda Yalimo dapat menjadi agen perubahan, pelopor perdamaian, serta motor penggerak pembangunan di Papua Pegunungan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan komitmen bersama dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan persatuan.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan generasi muda Yalimo semakin memahami pentingnya nilai kebangsaan serta mampu mengisi otonomi daerah dengan semangat kerja, inovasi, dan rasa tanggung jawab demi terwujudnya masyarakat yang maju, aman, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.


0 Komentar