JAYAPURA, TEBINGDOGIYAI.COM – Dinas Kesehatan Kota Jayapura bersama Tim Penggerak PKK Kota Jayapura menggelar Sosialisasi Perlindungan Anak dan Pengembangan Keluarga Asli Port Numbay menuju Papua Emas 2041 dengan tema “Selamatkan Perempuan dan Anak Port Numbay untuk Masa Depan Papua”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Rabu–Jumat (17–19 Desember 2025), di Hotel Horison Kota Raja.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg. Juliana Napitupulu, MM, yang menegaskan bahwa pembangunan manusia menuju Indonesia Emas harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia melalui pendekatan siklus hidup.
“Pembangunan kesehatan dilakukan sejak ibu hamil, bayi baru lahir, balita, remaja, dewasa hingga lansia, dengan meningkatkan kualitas layanan, akses pelayanan kesehatan, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat,” ujar drg. Juliana.
Ia menjelaskan, program ini sejalan dengan misi Wali Kota Jayapura nomor 5, yakni menciptakan sumber daya manusia unggul melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan. Salah satu langkah konkret adalah perlindungan terhadap perempuan dan anak agar generasi mendatang tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas.
Juliana juga menyoroti pentingnya kesiapan pasangan usia subur dan calon pengantin untuk mencegah kehamilan berisiko, yang dikenal dengan konsep 4T, yakni terlalu tua (hamil di atas 35 tahun), terlalu muda (hamil di bawah 20 tahun), terlalu sering (jarak kehamilan kurang dari dua tahun), dan terlalu banyak (jumlah anak lebih dari tiga).
Selain itu, ia menyampaikan pencanangan program Suami Siaga pada 1 Desember 2025, yang mendorong peran aktif suami dalam mendampingi istri selama kehamilan, persalinan hingga pascamelahirkan.
“Masih banyak ibu hamil datang ke puskesmas atau rumah sakit sendiri tanpa didampingi suami. Kehamilan sering dianggap hanya urusan istri. Padahal, dukungan suami sangat penting, baik secara fisik maupun emosional,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Jayapura, Ny. Nerlince Wamuar Rollo, S.E., M.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa kegiatan ini bukan agenda seremonial, melainkan momentum menentukan masa depan Orang Asli Port Numbay.
“Tiga hari ini kita serius. Kita menentukan masa depan orang Port Numbay lima, sepuluh, hingga dua puluh tahun ke depan. Jangan anggap ini kegiatan biasa,” tegasnya.
Ia mengungkapkan keprihatinannya atas belum jelasnya data jumlah dan kondisi Orang Asli Port Numbay, mulai dari usia produktif, balita, hingga potensi ekonomi ke depan.
“Kalau data dasar saja kita tidak tahu, bagaimana kita mau bicara masa depan? Dua puluh tahun ke depan, orang Port Numbay ini masih ada atau tidak?” ujarnya dengan nada emosional.
Nerlince juga mengajak seluruh elemen, termasuk ASN, TNI-Polri, pengusaha, akademisi, dan politisi asal Port Numbay untuk terlibat aktif, khususnya pada hari ketiga kegiatan.
“Hari Jumat kita kumpulkan semua. Kita mau dengar ide, gagasan, dan sumbangsih nyata untuk Port Numbay. Kita punya tanah, kita punya sumber daya, kita punya jati diri,” katanya.
Ia menegaskan, sebagai seorang ibu, dirinya tidak ingin melihat generasi Port Numbay kehilangan masa depan di tanahnya sendiri.
“Hari ini jangan lihat saya sebagai Ketua PKK, lihat saya sebagai mama. Mama menangis kalau anaknya susah. Tiga hari ini kita tentukan nasib orang Port Numbay ke depan,” tutupnya nada tangis.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari akademisi Universitas Cenderawasih, dokter spesialis, serta melibatkan perwakilan masyarakat dan kepala kampung dari 10 kampung di wilayah Port Numbay (Kota Jayapura). Program ini menjadi bagian dari gerakan nasional hidup sehat untuk perlindungan dan pengembangan keluarga menuju Papua Emas 2041.(*)
By. Admin
