JAYAPURA,TEBINGDOGIYAI.COM - Tulisan ini adalah tulisan lama, tulisan yang lahir dari masa-masa awal perjalanan hidup saya, ketika saya masih duduk di bangku SMK Negeri 3 Jayapura. Saya menuliskannya kembali hari ini bukan karena ada maksud lain, bukan pula untuk mencari pujian.
Saya hanya ingin berbagi cerita cerita tentang pengalaman belajar, tentang perjumpaan, dan tentang orang-orang hebat yang pernah Tuhan pertemukan dalam hidup saya.
Saya bangga pernah berada bersama kalian. Kalian bukan sekadar teman, tetapi menjadi bagian penting dalam proses hidup saya. Kalian selalu hadir sebagai motivasi dalam segala hal. Di sanalah saya menemukan sebuah wadah untuk belajar, sebuah ruang sederhana namun penuh makna, wadah itu bernama Majalah Metro Papua. Dari tempat itulah saya mulai mengenal dunia menulis, belajar berpikir kritis, belajar menyampaikan gagasan, dan belajar mencintai Papua melalui kata-kata.
Di sana pula saya bertemu orang-orang hebat. Orang-orang yang menurut saya luar biasa, bukan karena jabatan atau gelar, tetapi karena ketulusan mereka membagi ilmu dan semangat. Mereka memberi saya motivasi, nasihat, dan pandangan hidup. Dalam hati saya berkata: saya ingin belajar bersama kalian, dan semoga kalian tetap menjadi guru dan motivasi bagi saya.
Saya masih mengingat dengan jelas pertemuan-pertemuan itu. Kami sering berkumpul di Asrama Kasih Hagar, Dapil 5 Waena, tepatnya di kamar milik kakak Efendi Minai. Kamar itu sederhana, tetapi bagi saya terasa seperti ruang belajar paling berharga. Dindingnya dipenuhi buku-buku yang selalu menarik perhatian saya. Di atas meja terdapat sebuah printer milik kakak Efendi, dan di bawah meja ada sebuah kardus besar berisi majalah karya anak-anak Papua, anggota RPM Simapitowa, yang baru diterbitkan oleh sponsor. Setiap lembar majalah itu menjadi bukti bahwa anak Papua mampu menulis dan berkarya.
Dalam satu minggu kami selalu mengadakan pertemuan. Di depan pintu kamar, kakak Tres Tekege sering bersandar di tembok. Ia adalah seorang putri Papua yang berani dan cerdas, sedang menimba ilmu di STIKOM Muhammadiyah Jayapura, berasal dari Modio, Mapia, sebuah kampung di bawah gunung yang menjulang tinggi dan di tepi Sungai Mapia. Kata-katanya masih terngiang jelas di kepala saya,
“Papua membutuhkan karyaku dan karyamu. Karena itu kita harus belajar. Apa yang kita tahu harus kita karyakan untuk tanah Papua.”
Di dekatnya duduk kakak Longky Makai, seorang penulis muda Papua yang tulisannya telah banyak dimuat di media lokal seperti Meepago.com. Dengan tenang ia berkata
“Selagi kita makan untuk tubuh, otak juga butuh makan pengetahuan.”Kalimat sederhana itu mengajarkan saya bahwa belajar adalah kebutuhan hidup.
Pertemuan kami dipimpin oleh kakak Floren Tebai, pimpinan kami yang sedang menimba ilmu di STFT. Ia berasal dari Abaimaida, Mapia, sebuah kampung di bawah Gunung Dogiyai, di tepi Kali Wuduwou.
Ia selalu menekankan pentingnya belajar dan bersatu agar dapat menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi banyak orang.
Di pojok ruangan duduk Theo Iyai, seorang putra Papua yang dengan setia mendengarkan arahan pimpinan. Ia sedang menempuh pendidikan di STPK Santo Yohanes Rasul Waena, berasal dari Piyaiye, Dogiyai, sebuah kampung di bawah Pegunungan Papua.
Di dekat pintu ada kakak Emanuel Magai, mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), berasal dari Denei, Piyaiye, di bawah Pegunungan Awawa. Kata-katanya masih saya ingat,
“Kita belajar di masa muda SMA, kuliah. Saat tua nanti, apa yang kita pelajari itulah yang akan kita lakukan.”
Tak jauh darinya, kakak Rhine Dogomo, lulusan SMA Taruna Bakti Jayapura, berasal dari Egaidimi, sebuah dusun di bawah Gunung Kobouge. Ia lebih banyak mendengar, tetapi kehadirannya selalu memberi ketenangan.
Kakak Efendi Minai sendiri sibuk menulis dan mencatat apa yang disampaikan pimpinan. Ia berasal dari Piyaiye dan sedang menimba ilmu di Universitas Cenderawasih (UNCEN). Ia pernah berkata,
“Apa yang kita lakukan harus punya motivasi. Jangan cepat puas, karena di atas langit masih ada langit.”
Di sudut ruangan saya duduk Yulianus Magai, seorang pelajar SMK Negeri 3 Jayapura, berasal dari Magode, sebuah kampung di bawah Gunung Kobouge. Saya lebih banyak diam, mendengar, dan belajar.
Saya mungkin belum tahu banyak, tetapi saya tahu satu hal: saya sedang berada di ruang yang tepat untuk bertumbuh.
Beberapa teman tidak sempat hadir, seperti Stefen Mote dari Mapia dan Yulianus Magai A. dari Piyaiye, yang juga menimba ilmu di Universitas Cenderawasih. Meski tidak hadir, mereka tetap menjadi bagian dari cerita dan proses ini.
Kami biasa bertemu seminggu sekali, biasanya hari Sabtu. Jika berhalangan, kami berpindah ke hari Minggu. Dari pertemuan-pertemuan sederhana itu saya belajar banyak hal tentang menulis, tentang berpikir, tentang keberanian, dan tentang cinta pada Papua.
Namun semuanya berubah ketika wabah Covid-19 melanda. Dunia seakan berhenti. Kami tidak lagi bisa berkumpul seperti sebelumnya. Aktivitas diliburkan, jarak memisahkan kami. Dalam situasi itu saya hanya bisa berdoa, semoga kalian semua baik-baik saja dan semoga suatu hari nanti kita bisa berkumpul kembali.
Ah, kakak-kakakku…Saya rindu.Rindu yang sungguh-sungguh.Rindu yang membuat dada sesak dan mata berkaca-kaca.
Kini waktu telah membawa saya ke titik yang dulu hanya bisa saya bayangkan. Saya bukan lagi pelajar SMK yang duduk diam di sudut kamar asrama itu. Hari ini saya adalah Yulianus Magai, Wartawan Tribun Papua, dan dengan segala keterbatasan saya telah berhasil menerbitkan sebuah buku. Semua ini tidak terjadi begitu saja. Semua ini adalah hasil dari proses panjang yang kakak-kakakku mulai jauh sebelum saya memahami arti perjuangan.
Saya ingin mengatakan dengan jujur: saya adalah anak didik dari proses itu. Api semangat yang kalian nyalakan api menulis, api berpikir, api mencintai Papua tidak pernah padam. Api itu hidup di dalam diri saya, menuntun setiap langkah dan setiap tulisan saya.
Dan hari ini saya ingin memastikan satu hal:api yang kalian nyalakan tidak akan padam.Ia akan terus menyala, berpindah dari generasi ke generasi, dari satu tulisan ke tulisan lain, dari satu anak Papua ke anak Papua berikutnya.
Terima kasih, kakak-kakakku.Jejak kalian hidup dalam langkah saya.Doa kalian menguatkan jalan saya.Dan proses yang kalian mulai akan terus saya lanjutkan,di bawah langit Papua.
Penulis adalah Yulianus Magai, Jurnalis TribunPapua
.jpg)