Oleh : Yanmar kalakmabin
JAYAPURA, TEBINGDOGIYAI.Com - Desember selalu datang sebagai bulan penantian.
Dalam ajaran Kristiani, masa ini adalah saat manusia membuka hati menyambut terang saat harapan dirawat sambil menunggu damai yang dijanjikan. Tetapi bagi Rakyat Papua, penantian itu bukan sekadar bagian dari kalender iman. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh luka, penuh kesabaran, dan penuh kerinduan akan martabat yang diakui sepenuhnya.
Selama lebih dari enam dekade, orang Papua menghadapi kisah yang tidak sederhana. Derita warga sipil di Nduga dan Intan Jaya, tragedi yang merenggut nyawa di tengah konflik, dan ribuan orang yang mengungsi di Maybrat, Pegunungan Bintang, Nduga, hingga Intan Jaya, meninggalkan jejak panjang tentang betapa rapuhnya keamanan bagi masyarakat biasa. Di tanah yang harusnya memberi perlindungan, mereka justru belajar bertahan di tengah ketidakpastian.Tak hanya itu. Ketika harapan diletakkan pada layanan publik, kenyataan kembali menyisakan luka. Kepergian Ibu Irene Sokoy akibat dugaan kesalahan medis bukan hanya kabar duka; itu adalah gambaran dari betapa rentannya hidup di tengah fasilitas kesehatan yang terbatas, minim tenaga, dan pengawasan yang lemah. Nyawa melayang bukan dalam konflik, tetapi dalam situasi yang seharusnya dikuatkan oleh negara.
Pada waktu yang sama, masyarakat adat berdiri teguh menjaga tanah mereka warisan leluhur yang bukan hanya sumber hidup, tetapi identitas. Suku Awyu dan marga Kwifalo di Papua Selatan masih menolak proyek PSN yang mereka anggap mengancam hutan dan ruang hidup. Di Intan Jaya, suara penolakan terhadap rencana tambang Blok Wabu tidak pernah padam. Semua ini menunjukkan satu hal:
masyarakat adat ingin dihormati sebagai pemilik sah tanah yang telah mereka jaga turun-temurun.
Harapan pernah dititipkan pada Otonomi Khusus 2001 dan revisinya pada 2021.
Namun banyak orang Papua merasakan bahwa yang dijanjikan tidak sejalan dengan yang terjadi. Kepercayaan melemah, ruang kontrol tidak bertambah, dan pendekatan keamanan masih dominan. Jika Aceh pernah diberi jalan dialog yang terhormat, Papua masih menunggu ruang dialog yang sama dialog yang jujur, setara, dan bermartabat.
meski sejarah panjang ini penuh luka, Papua tidak pernah kehilangan cahaya kecil yang terus bertahan di sudut hatinya. Orang Papua tetap meyakini bahwa harapan tidak pernah padam.
Seperti ajaran iman yang mereka pegang, mereka percaya bahwa terang selalu menemukan jalannya kembali.
Dan terang itu boleh dibawa oleh bintang fajar yang menyingsing—bintang yang menandakan bahwa di balik malam yang panjang, masih ada masa depan, masih ada harapan yang pasti.
dalam semangat penantian dan keyakinan akan harapan yang tak pernah mati, izinkan saya menutup dengan penghormatan yang tulus:
Selamat Ulang Tahun bagi bangsa West Papua pada 1 Desember 2025. Semoga terang yang dibawa bintang fajar itu benar-benar tiba membawa damai, keadilan, dan masa depan yang lebih manusiawi bagi seluruh rakyat Papua.
Penulis adalah: anggota PMKRI cabang di Jayapura Yanmar kalakmabin
