Poto dihalaman rumah diatas pandasi kerinduan bersama kedua buah hati.
PAPUA- Tebing Dogiyai.com -21/10/2026- Di tengah klaim keberhasilan pembangunan dan besarnya pengucuran Dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk kesejahteraan Tanah Papua, realita keras masih dirasakan oleh masyarakat akar rumput. Ketimpangan ekonomi dan melonjaknya angka pengangguran memaksa banyak keluarga Orang Asli Papua (OAP) bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Ketimpangan sosial-ekonomi yang mendalam di Papua. Meskipun dana Otonomi Khusus (Otsus) terus digelontorkan untuk meningkatkan kesejahteraan, realitanya banyak warga asli Papua yang masih melarat dan kesulitan memenuhi kebutuhan mendasar.
Masyarakat Asli Papua (OAP), khususnya para orang tua dan anak-anak yang terabaikan dari dampak nyata pembangunan, serta pemerintah daerah/pusat selaku pengelola kebijakan Otsus.
Di wilayah pedalaman/pemukiman warga di Tanah Papua.
Terjadi secara berkelanjutan di era Otonomi Khusus hingga saat ini, di mana tingkat pengangguran dan kemiskinan masih terus menjadi tantangan utama.
Adanya ketidaktepatan sasaran penyaluran Dana Otsus, minimnya pembukaan lapangan kerja lokal, serta kurangnya akses pendidikan dan pelatihan ketenagakerjaan bagi warga lokal yang menyebabkan angka pengangguran terus meningkat.
Masyarakat harus bertahan hidup secara mandiri dengan fasilitas seadanya. Tampak para orang tua bersama anak-anak duduk di lingkungan pemukiman yang sederhana, menggambarkan perjuangan harian tanpa kepastian jaminan sosial dan ekonomi dari pemerintah daerah.
"Kesejahteraan seharusnya hadir untuk seluruh Orang Asli Papua. Namun, ketika angka pengangguran semakin meningkat dan rakyat kecil masih melarat di tanahnya sendiri, muncul pertanyaan besar: Untuk siapakah sebenarnya Dana Otonomi Khusus itu hadir?"
Masyarakat berharap agar pemerintah pusat maupun daerah melakukan evaluasi total terhadap penyaluran dan pengelolaan Dana Otsus, sehingga anggaran tersebut benar-benar menyentuh dan mengubah taraf hidup rakyat kecil di Tanah Papua.


0 Komentar