Ticker

6/recent/ticker-posts

Ad Code

Responsive Advertisement

Pemkab Paniai Gandeng UGM dan Yayasan Teknologi Hijau Papua, Luncurkan Pilot Project Go Green Papua Tengah 2045



TEBINGDOGIYAI.COM, PANIAI-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paniai resmi menggandeng Yayasan Teknologi Hijau Papua dan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mewujudkan Program Go Green Papua Tengah 2045, sebuah gerakan penghijauan jangka panjang yang bertujuan menjaga kelestarian hutan Papua sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Paniai, Yayasan Teknologi Hijau Papua, dan Fakultas Kehutanan UGM.

 Penandatanganan ini menjadi tonggak awal dimulainya proyek percontohan (pilot project) penghijauan di Kabupaten Paniai yang nantinya akan menjadi model pelaksanaan program serupa di seluruh wilayah Papua Tengah.

Bupati Paniai, Yampit Nawipa, mengatakan Pemerintah Kabupaten Paniai menyambut baik kolaborasi tersebut karena dinilai menjadi langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, melindungi kawasan hutan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.

Menurut Yampit, keberadaan hutan Papua bukan hanya menjadi aset bagi masyarakat Papua, tetapi juga memiliki peran penting bagi Indonesia bahkan dunia karena berfungsi sebagai penyerap karbon dan penyangga keseimbangan iklim.

 "Program ini sangat penting dan harus didukung oleh pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari," ujar Yampit Nawipa.

Ia menegaskan, ancaman terhadap kawasan hutan di Papua saat ini semakin nyata. Selain dipengaruhi oleh faktor alam, kerusakan hutan juga disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali, seperti pembalakan liar (*illegal logging*), pertambangan tanpa izin (*illegal mining*), serta pembukaan lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka akan berdampak pada rusaknya ekosistem, berkurangnya sumber mata air, meningkatnya potensi bencana alam, hingga mengancam kehidupan masyarakat adat yang selama ini menggantungkan hidup dari hutan.

Karena itu, kata Yampit, diperlukan langkah konkret melalui gerakan penghijauan yang dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, komunitas, hingga masyarakat adat.

Ia berharap Program Go Green Papua Tengah 2045 dapat menjadi gerakan bersama yang mampu menumbuhkan kesadaran seluruh elemen masyarakat untuk menjaga hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

"Program ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Kami bersyukur Kabupaten Paniai dipercaya menjadi daerah pertama atau kabupaten percontohan dalam pelaksanaan program ini di Papua Tengah," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Teknologi Hijau Papua, Otopianus P. Tebai, menjelaskan bahwa Program Go Green Papua Tengah 2045 merupakan salah satu program strategis yayasan yang dirancang untuk menjadikan Papua Tengah sebagai provinsi percontohan kawasan hijau berkelanjutan di Indonesia Timur pada tahun 2045.

Menurutnya, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin besarnya ancaman kerusakan hutan akibat eksploitasi sumber daya alam dan perubahan iklim yang kini mulai dirasakan masyarakat.

Oleh sebab itu, Yayasan Teknologi Hijau Papua mengusung tagline "Lindungi Papua, Paru-Paru Dunia", sebagai ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga hutan Papua yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.

"Hutan Papua bukan hanya milik masyarakat Papua, tetapi merupakan aset bangsa bahkan dunia. Karena itu, menjaga hutan berarti menjaga masa depan generasi yang akan datang," ujarnya.

Otopianus menjelaskan, Program Go Green Papua Tengah 2045 merupakan bagian dari inisiatif besar Green Papua 2045 yang memiliki target menanam sebanyak 30 juta pohon di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah selama kurun waktu 20 tahun ke depan.

Kabupaten Paniai dipilih sebagai lokasi pertama pelaksanaan program karena dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengelolaan penghijauan berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, lembaga lingkungan hidup, dan perguruan tinggi.

Setelah pelaksanaan di Kabupaten Paniai berjalan dengan baik, program tersebut akan diperluas ke Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Nabire, Intan Jaya, Mimika, Puncak, dan Puncak Jaya.

Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya berorientasi pada kegiatan menanam pohon semata, tetapi juga mencakup upaya edukasi kepada masyarakat, pelestarian hutan adat, rehabilitasi lahan kritis, penguatan ekonomi hijau, hingga pengembangan sumber daya manusia yang peduli terhadap lingkungan

 "Ini adalah program unggulan yayasan dalam menjaga hutan Papua tetap utuh sehingga anak cucu kita masih bisa menikmati keindahan alam Papua yang lestari," katanya.

Untuk memastikan seluruh tahapan program berjalan sesuai standar ilmiah, Yayasan Teknologi Hijau Papua menggandeng Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada sebagai mitra akademik.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., bersama tim peneliti dan tenaga ahli akan memberikan pendampingan teknis dan akademis selama program berlangsung.

Pendampingan tersebut meliputi penyusunan peta jalan (road map), identifikasi kawasan prioritas penghijauan, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik wilayah, penyusunan indikator keberhasilan program, hingga pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan mampu memastikan setiap tahapan penghijauan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat maupun lingkungan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga lingkungan hidup ini, Program Go Green Papua Tengah 2045 diharapkan menjadi contoh sinergi pembangunan berkelanjutan yang dapat direplikasi di seluruh kabupaten di Papua Tengah.

Program tersebut juga dinilai sejalan dengan kebijakan nasional Indonesia's FOLU Net Sink 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 mengenai Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon. Melalui kebijakan tersebut, sektor kehutanan dan penggunaan lahan ditargetkan mampu menyerap emisi karbon hingga mencapai minus 140 juta ton CO2e pada tahun 2030.

Selain mendukung target nasional menuju Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060 atau lebih cepat, pelaksanaan Program Go Green Papua Tengah 2045 juga menjadi bentuk nyata dukungan terhadap komitmen Indonesia dalam Paris Agreement dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek perlindungan ekosistem daratan, penanganan perubahan iklim, pengurangan emisi karbon, serta pembangunan berkelanjutan.

Dengan dimulainya proyek percontohan di Kabupaten Paniai, diharapkan lahir gerakan penghijauan yang tidak hanya berfokus pada penanaman jutaan pohon, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga hutan Papua sebagai warisan alam yang memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Posting Komentar

0 Komentar